8 April 2011

IBD - Perayaan Hanami

Nama : Yuniko Galuh F
Npm   : 18110784
Kelas : 1KA16

 

(Hanami)


Hanami (花見? melihat bunga) atau ohanami adalah tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Mekarnya bunga sakura merupakan lambang kebahagiaan telah tibanya musim semi. Selain itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura. Pohon sakura mekar di Jepang dari akhir Maret hingga awal April (kecuali di Okinawa dan Hokkaido). Prakiraan pergerakan mekarnya bunga sakura disebut garis depan bunga sakura (sakurazensen). Prakiraan ini dikeluarkan oleh direktorat meteorologi dan berbagai badan yang berurusan dengan cuaca. Saat melakukan hanami adalah ketika semua pohon sakura yang ada di suatu tempat bunganya sudah mekar semua. Musim bunga sakura bermekaran atau cherry blossom di Jepang adalah fenomena alam yang sangat indah. Warga Jepang menyambut peristiwa itu dengan penuh keceriaan dan menafsirkan bahwa musim semi telah tiba. Ya, Sakura Matsuri merupakan suatu perayaan pergantian musim yang sangat ditunggu dengan penuh semangat oleh masyarakat Jepang. Merujuk dari kata 'Sakura' yang berarti bunga sakura dan 'Matsuri' yang berarti perayaan. Sakura Matsuri memiliki arti sebagai perayaan bunga sakura atau juga yang dikenal dengan sebutan Cherry Blosooms. 

 Seiring dengan mencairnya salju di Jepang, bunga sakura pun mulai bermunculan menjadi pertanda datangnya musim semi. Taman dan kebun yang tadinya dipenuhi salju kini tampak menghangat dengan munculnya kuncup-kuncup pink dan putih bunga sakura. Di saat seperti inilah masyarakat Jepang memanfaatkannya untuk malakukan 'hanami'. Konon hanami sudah dianggap sebagai tradisi oleh masyarakat Jepang. Dimana moment tersebut biasanya dipergunakan untuk berkumpul bersama keluarga, teman, atau rekan kerja untuk duduk-duduk sambil bersantap bersama di bawah pohon sakura. Di Jepang, musim semi identik dengan musim bunga. Antara Maret hingga April bunga-bunga bermekaran mencapai 'puncaknya'. Bukan hanya bunga sakura, beraneka bunga lain juga bermekaran berwarna-warni. Momen itu biasa disusul dengan dibukanya beragam festival bunga di berbagai tempat. Bagi warga Jepang, musim semi merupakan awal dari kehidupan sosial, kehidupan baru yang indah penuh harapan. Itulah sebabnya, tahun fiskal bagi para pengusaha dan tahun pelajaran di sekolah dimulai pada awal April. Meski tidak resmi menjadi bunga negara, dalam budaya Jepang, bunga sakura bernilai sakral. Sudah menjadi tradisi sejak zaman Heian, sekitar tahun 794, para petinggi atau aristokrat mengadakan pesta menyambut mekarnya bunga sakura. Tradisi itu menjadi acara ritual keagamaan di Jepang. Biasa diadakan upacara doa sebelum musim tanam, dengan harapan para petani mendapat sukses besar pada musim panen raya nanti.

Pesta Taman
Sudah menjadi sebuah kultur, seluruh penduduk Jepang menantikan tibanya bunga sakura bermekaran. Mereka antusias memandangi bunga sakura. Menikmati dengan memandangi sakura, disebut hanami. Suatu menjadi kebiasaan pula, warga Jepang mengadakan pesta taman di bawah pohon bunga sakura, berkumpul reriungan dengan rekan-rekan kerja atau sanak keluarga, makan minum bersama sambil menyanyi. Pesta taman yang meriah itu dinamakan enkai. Ironisnya, momentum bunga sakura bermekaran yang sangat ditunggu-tunggu itu berlangsung tidak lama. Kurun waktunya singkat saja, sekitar satu minggu sampai sepuluh hari. Setelah itu, petal atau daun bunga yang tipis, yang sangat rentan terkena angin musim semi, akan mulai berguguran. Pohon bunga sakura itu biasa ditanam berkelompok dalam jumlah besar. Di musim semi, taman-taman itu terlihat indah sekali, bagaikan diselimuti bunga sakura berwarna putih, merah muda (pink), atau kuning muda.


Selalu Diumumkan
Saat mulainya bunga sakura bermekaran sangat sukar diprediksi dengan tepat. Semua tergantung iklim setempat dan dipengaruhi pula oleh faktor alam seperti hujan, angin, dan cuaca. Secara umum bunga sakura bermekaran dimulai dari daerah selatan yang berudara lebih hangat. Di kawasan Okinawa, bunga sakura mulai bermekaran di bulan Januari. Iklim panas itu merambat ke daerah utara. Di kawasan Hokkaido, di daerah paling utara, bunga sakura baru mekar pada bulan Mei. Di kawasan Tokyo dan sekitarnya pada akhir Maret dan awal April. Di daerah pegunungan yang berudara lebih dingin, bunga sakura akan mekar belakangan. Untuk memenuhi hasrat warganya, setiap hari Badan Meteorologi Jepang melalui media elektronik maupun cetak, mengumumkan secara luas berita perkembangan iklim dan prakiraan tibanya musim bunga sakura untuk setiap daerah. Dengan begitu, penduduk dapat merencanakan dengan tepat waktu dan lokasi untuk hanami dan pesta enkai. Karena Tokyo merupakan kota kosmopolitan yang sarat dengan gedung tinggi, untuk melihat bunga sakura perlu mencari lokasi terbaik. Lokasi terbaik bisa berarti taman sebagai ruang publik. Perlu diketahui, tidak semua taman di Tokyo terbuka gratis untuk umum. Lokasi terbaik di Tokyo, antara lain di Ueno Park, Yoyoki Park, Chidorigafuchi, Sumida Park, Inokashira, dan Taman Pemakaman Aoyama yang terbuka gratis, sedangkan di Shinjuku Gyoen dan Kebun Raya Koishikawa, kita perlu membayar karcis masuk 200-330 yen atau sekitar 16-26 ribu rupiah.

Berkelompok
Bunga sakura biasa ditanam berkelompok. Saat berbunga, semua pohon bunga sakura di suatu lokasi akan bermekaran secara bersamaan. Karena pohonnya tidak berdaun, yang terlihat hamparan bunga seluruhnya, lebih-lebih bila bunganya gompiok. Sungguh indah! Bunga sakura ada lebih dari seratus varietas, mayoritas adalah varietas Somei Yoshino dan Yamazakura. Umumnya jumlah petalnya 5 helai, ada juga yang 20 helai. Yang lebih tebal, biasanya memiliki sekitar 100 helai petal. Bunga sakura dengan lebih dari 5 helai petal disebut yaezakura. Terbanyak adalah bunga sakura warna merah muda dan putih. Ada juga yang berwarna pink tua dan putih kekuning-kuningan. Warna itu dapat berubah, saat mulai berkembang berwarna putih, kemudian berubah menjadi kemerah-merahan. Yang pasti, bunga sakura di Jepang tidak berubah menjadi buah ceri. (SENIOR/B.Kusuma) Tak heran kalau setiap tahun menjelang datangnya musim semi, kemeriahan festival sakura dan hanami (pesta yang diselenggarakan di bawah rerindangan pohon sakura) menjadi saat yang selalu ditunggu-tunggu, baik oleh orang Jepang sendiri maupun pelancong asing. Saat mekarnya kembang yang dalam bahasa ilmiah berjuluk Prunus jamasakura ini memang sangat bervariasi di seantero Jepang. Semuanya tergantung lokasi tumbuhnya sakura serta iklim dan cuaca setempat. Di Okinawa, misalnya, yang berada dekat kawasan tropis, musim sakura sudah mulai pada Januari. Namun, di kota-kota utama, seperti Kyoto dan Tokyo, sakura baru muncul di penghujung Maret. Di Hokkaido, kawasan di utara Jepang, sakura hadir beberapa minggu kemudian. Sebagaian orang menunggu musim sakura sambil membaca ramalan cuaca yang disertai ramalan waktu mekarnya bunga ini punya debaran sekaligus keasyikan tersendiri. Pasalnya, sakura sangat unik. Musim yang ditunggu-tunggu tersebut hanya berlangsung dalam rentang satu pekan saja. Itu belum termasuk seandainya turun hujan dan angin ribut yang bisa saja dengan serta-merta merontokkan keindahan kelopak-kelopak sakura ke tanah. Keindahan sakura sulit dilukiskan dengan kata-kata. Warna dominannya yang putih suci yang sesekali ditingkahi dengan rona merah muda nan pasi bagai membawa pengunjung menyaksikan gelantungan bola-bola salju yang menawan. Dari kejauhan sebatang pohon sakura bagai tertutupi salju putih nan indah dari atas ke bawah. Bahkan, terlihat seperti awan yang tengah berarak. Bagi orang Jepang, keindahan sakura makin terlihat apabila bunga itu tumbuh di sekitar bangunan tua atau rumah-rumah ibadat Shinto dan Budha yang berarsitektur klasik khas Jepang. Di beberapa tempat menjelang terbenamnya matahari, hamparan sakura bagai memberi sinar tersendiri. Sungguh memesonakan. Kawula muda akan berkumpul bersama sambil bernyanyi dan bermain musik, bahkan ada yang sampai menenggak alkohol. Namun, bagi sebagian orang Jepang yang religius, mereka akan pergi ke kuil dan berdoa. Hanami, ngumpul bareng di bawah sakura, jelas agenda tak terlupakan setiap tahun baik buat warga Jepang maupun warga asing. Mereka akan datang bersama keluarga atau kolega ke taman-taman, duduk-duduk, makan makanan enak, sambil kemudian menikmati sakura bersama. Tidak seperti kebanyakan bunga lainnya, kembang sakura muncul lebih dahulu ketimbang daunnya. Setelah seminggu berlalu dan kelopak-kelopak sakura berguguran, baru tumbuh dedaunan. Keberadaan kembang yang singkat itu dengan kecantikan dan pesona yang luar biasa serta diikuti dengan fase kematian sangat cepat, sering dikaitkan dengan makna kematian. Bagi orang Jepang yang mayoritas Budha, meski kebanyakan mengaku bukan pengamal yang baik agama tersebut, siklus bunga sakura diyakini sebagai refleksi kehidupan manusia yang sungguh singkat.

Simbol kerja-keras
Ketika menghadiri sebuah pertemuan ilmiah di tengah Kota Tokyo, seorang profesor Jepang di bidang botani bertanya pada peserta yang hampir semuanya warga asing, makna sakura dalam kehidupan. Kebanyakan menjawab filosofi sakura sebagai metafora kehidupan yang sangat pendek. Ada juga yang menjawab sakura dijadikan simbol untuk menstimulasi rasa nasionalisme, terutama apabila dihubungkan dengan prajurit selama Perang Dunia II. Bukan rahasia lagi Pemerintah Jepang menggalakkan masyarakat meyakini jiwa para prajurit mereinkarnasi dalam kelopak-kelopak sakura. Namun, sang Profesor memiliki interpretasi lain. Baginya, sakura patut dilihat dari sisi biologi dan botani. Keunikannya dengan bunga yang indah baru kemudian disusul daun menunjukkan sakura sebuah makhluk pekerja keras. Jarang yang memperhatikan sakura mempersiapkan dirinya, memahami penderitaannya di tengah ekstrem musim gugur, kemudian muncul memberi pesona menjelang musim semi tiba. Sakura melewati semua tantangan dan kesulitan dengan sukses untuk tampil memberi hasil karya yang cemerlang. Itu dapat disamakan dengan tantangan dan kesulitan Jepang seusai Perang Dunia II. Pada September 1945 Jepang kehilangan hampir tiga juta serdadu perangnya dan seperempat kekayaan negaranya. Namun, dengan sangat cepat, Jepang menjadi kuasa ekonomi nomor dua pada 1980-an. Analis menyimpulkan kemajuan perekonomian Jepang sangat berkaitan dengan beragam faktor, terutama kebijakan AS terhadap negara itu, terbukanya pasar internasional, mobilisasi sosial, pengalaman dan kapasitas industri, kebijakan pemerintah, dan kepakaran. Penunjangnya adalah sikap kerja keras sangat luar biasa. Pyle dalam The Making of Modern Japan (1996) menulis bahwa rasa nasionalisme dan keinginan yang kuat untuk sejajar dengan Barat setelah PD II membuat semua orang Jepang melipatgandakan usaha. Kehilangan banyak hal selama perang dan kebutuhan untuk membangun kembali dari awal menjadi spirit tersendiri yang ditunjang dengan teknologi dan manajerial yang sangat baik. Hasilnya, Jepang menikmati kemakmuran dan kejayaan di hampir semua sektor, mulai ekonomi, sosial, budaya, serta iptek. Data indeks pembangunan manusia (HDI) 2007/2008 yang dirilis UNDP meletakkan Jepang pada posisi nomor delapan (sebagai pembanding, Indonesia nomor 107). GDP Jepang peringkat ke-17 (Indonesia 113). Umur harapan hidup warga Jepang tertinggi di dunia (82,3 tahun), sedangkan Indonesia berada di nomor 100 dengan 69,7 tahun.


Sejarah Hanami
Di Jepang, masyarakat mereka menikmati kecantikan bunga Sakura melalui kegiatan khusus yang disebut Hanami. Hana berarti bunga sedangkan mi berarti melihat. Jadi arti Hanami adalah “Melihat bunga”, namun semua orang tahu bahwa bunga yang dirujuk ini tidak lain adalah bunga Sakura yang tumbuh dimusim semi. Di dalam Hanami, ia tidak hanya semata melihat keindahan mekarnya bunga sakura, melainkan terdapat suatu kegiatan lain yang selalu dipadukan yaitu bertamasya sambil menikmati sajian makanan dan minuman bersama keluarga atau kolega kerja. Lazimnya, saat musim semi tiba menggantikan musim dingin, bunga-bunga sakura mulai tumbuh dan mekar. Pada saat ini mas- yarakat akan berbondong-bondong mengunjungi taman yang berhiaskan bunga sakura. Menurut kisah sejarah, kebiasaan hanami dipengaruhi oleh raja-raja Cina yang gemar menanam pohon plum di sekitar istana mereka. Di Jepang para bangsawanpun kemudian mulai menikmati bunga Ume (plum). Namun pada abad ke-8 atau awal periode Heian, obyek bunga yang dinikmati bergeser ke bunga sakura. Dikisahkan pula bahwa Raja Saga di era Jepang dahulu gemar menyelenggarakan pesta hanami di taman Shinsenen di Kyoto. Para bangsawanpun menikmati hanami di berbagai istana mereka, dan para petani masa itu melakukannya dengan mendaki gunung terdekat di awal musim semi untuk menikmati bunga sakura yang tumbuh disana sambil `tidak lupa membawa bekal untuk makan siang. Hingga kini hanami menjadi kebiasaan yang mengakar di seluruh masyarakat Jepang dan telah di terima sebagai salah satu kekhasan bangsanya. Khusus di daerah Kansai dan Jepang Barat, tempat-tempat unggulan untuk ber-hanami adalah Arashiyama di Kyoto, Yoshino di Nara, taman disekitar OsakaCastle dan Taman Shukugawa di Nishinomiya, Prefektur Hyogo. Osaka Castle di kota Osaka termasuk salah satu tempat favorit untuk ber-hanami. Para peneliti memperkirakan bahwa wilayah yang kini dikenal dengan nama kota Osaka telah dihuni manusia sejak sepuluh ribu tahun lalu. Sekitar abad ke-5, kebudayaan Timur telah diperkenalkan ke wilayah Jepang melalui Peninsula Korea lalu Osaka yang dikemudian hari menjadi pusat kebudayaan dan politik Jepang. Pada abad ke-7, ibukota pertama Jepang didirikan di Osaka dan ia menjadi pintu gerbang kebudayaan dan perdagangan utama Jepang. Kemudian suatu saat sekitar akhir abad ke-12 kekuatan politik disana jatuh ketangan kelas pendekar perang dan Jepang mulai memasuki masa perselisihan sipil dan intrik muncul dimana-mana hingga menumbuhkan ketidakpastian masa depan rakyatnya. Pada tahun 1583, Toyotomi Hideyoshi seorang penguasa dimasanya berhasil menyatukan Jepang dari masa kelam ini dan kemudian memilih Osaka sebagai tempat tinggalnya. Ia membangun Osaka menjadi pusat politik serta ekonomi Jepang. Puri Osaka atau Osaka Castle merupakan salah satu saksi bisu kemegahan masa itu dan menjadi bangunan terindah yang didirikan oleh Toyotomi Hideyoshi. Puri ini dikelilingi taman yang penuh pohon Cherry, Plum dan Sakura serta berbunga indah saat musim semi. Bunga yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat serta mengundang kekaguman para pengunjung saat ber-hanami. Di abad ke-17 walalupun pusat kekuatan politik telah bergeser ke Tokyo, Osaka terus berlanjut memainkan peran yang penting dalam mengatur perekonomian dan distribusi barang di Jepang. Di masa ini pula kebudayaan kota berkembang pesat antara lain melalui lahirnya sekolah-sekolah yang dikelola pihak swasta dengan sistim pendidikan yang berbeda dari yang dilaksanakan oleh pemerintah dimasa itu. Melalui cara ini, cara berpikir terbuka dan semangat berwirausaha telah dipupuk dan menjadikan Osaka dikemudian hari menjadi suatu kota metropolis yang modern serta menjadi kota terbesar ketiga di Jepang. Pada masa lalu, Osaka memang pernah menjadi pusat perdagangan Jepang. Kini, seiring dengan kemajuan jaman, sejak akhir tahun 1990an banyak perusahaan-perusahaan terkemuka memindahkan kantor pusat mereka ke Tokyo. Namun beberapa tetap mempertahankan tradisi berkantor pusat di Osaka.

JEJARING KERJASAMA
Walapun banyak perusahaan besar telah memindahkan kantor pusat mereka ke Tokyo, Osaka tetap optimis dapat berkembang maju seperti apa yang pernah diraihnya di masa lalu sebagai pusat politik dan ekonomi Jepang. Pemerintah setempat selalu giat menarik investasi lokal maupun asing untuk menanam modal di wilayah Osaka. Berbagai industri telah dibangun termasuk pusatpusat pendidikan tinggi semisal Osaka University, Kansai University dan Osaka Institute of Technology. Agar Osaka tetap dapat berkembang seirama dengan kemajuan pembangunan dunia dan mempertahankan perdamaian masyarakat internasional, Osaka telah memiliki delapan sister cities dengan kota lain. Antara lain Chicago, Hamburg, San Francisco, Shanghai, Melbourne, Milan bahkan dengan Saint Petersburg di Rusia. Kerjasama ini difokuskan pada kegiatan olahraga, ilmu pengetahuan, budaya dan perdagangan. Pada tahun 1998 telah didirikan pula kerjasama Friendship and Cooperation Cities dengan kota Budapest dan Buenos Aires untuk pertukaran informasi ditingkat pejabat kota khusus bidang promosi olahraga, masalah budaya dan lingkungan hidup. Mengingat Osaka memiliki pelabuhan laut yang dikunjungi sekitar 7.200 kapal luar negeri per-tahun dari sekitar 400 pelabuhan di 100 negara, maka hal ini telah menjadikan Osaka sebagai salah satu pusat perdagangan dan jasa container terpenting dunia. Pertahun pelabuhan laut Osaka diperkirakan dikunjungi 3.200 kapal laut pengangkut container barang. Guna meningkatkan kerjasama di bidang pelabuhan laut, telah dilakukankerjasama Sister Ports dengan tujuh pelabuhan laut mancanegara antara lain dengan Port of San Francisco, Port of Melbourne, Port of Le Havre, Port of Shanghai dan Port of Pusan. Kerjasama internasional lain yang juga telah dibentuk adalah Business Partner Cities (BPC). BPC adalah suatu jenis kerjasama baru yang dibentuk oleh pemerintah lokal untuk mempromosikan dan meningkatkan hubungan ekonomi di kalangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Osaka dengan masyarakat dunia agar mereka lebih berorientasi internasional serta aktif meningkatkan perdagangan. Setidaknya telah dilakukan BPC dengan duabelas kota antara lain Hong Kong, Singapore, Bangkok, Kuala Lumpur, Jakarta, Seoul, Shanghai, Ho Chi Minh, Melbourne dan Tianjin. Nah, jika pembaca ingin mencoba meluaskan hubungan dagang, silahkan berkunjung ke Osaka. Siapa tahu hubungan perdagangan dengan Jepang dapat dimulai dari kota ini sambil berhanami

Tempat Hanami yang Terkenal
(article ekspedision) Ueno Kouen adalah taman nasional yang sudah berdiri sejak tahun 1873, dan termasuk taman yang terbesar di Tokyo. Tidak hanya sebuah taman, daerah Ueno juga terkenal dengan Ueno Zoo, Science Museum, Tokyo National Museum dan beberapa museum art lainnya. Menurut keterangan, pohon sakura yang terdapat di taman Ueno jumlahnya lebih dari seribu pohon. Untuk mencapai ke taman nasional Ueno Kouen tidaklah sulit. Letaknya hanya 4 kilometer dari stasiun pusat kota Tokyo. Itulah salah satu alasan mengapa daerah Ueno menjadi salah satu tujuan wisata yang ramai. Untuk mencapai kesana, saya memutuskan untuk naik alat transportasi yang paling banyak dipakai oleh masyarakat Tokyo yaitu kereta. Hampri semua wilayah di Tokyo bisa dijangkau dengan alat transportasi publik ini. Itulah salah satu alasan mengapa orang di Tokyo enggan memiliki mobil pribadi. Karcis untuk kereta pun dapat dibeli langsung dari mesin yang terletak disamping pintu gerbang, meskipun ke banyakan orang tampaknya tinggal menyentuhkan ponsel mereka ke pintu gerbang dan pintu pun langsung terbuka. It’s very convenient!. Jadwal kereta yang lewat pun sangatlah sering. Pada waktu padat, jadwal kedatangan kereta setiap 3 menit sekali. Hal lain yang patut ditiru adalah soal ketepatan waktu. Jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta benar- benar sesuai dengan jadwal, tak lebih maupun kurang dari semenit pun. Kecuali bila terdapat hal- hal di luar dugaan, misalnya angin kencang atau terdapat kasus orang bunuh diri di suatu jalur kereta (kasus bunuh diri di Jepang memang cukup tinggi, dan tidak jarang orang menggunakan kereta sebagai salah satu caranya). Keterlambatan datangnya kereta pun pasti diumumkan, walaupun hanya beberapa menit saja. Yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya,” Karena angin kencang datang kereta terlambat 2 menit, mohon maaf atas terganggunya ke nyamanan anda.”. Suatu hal yang menggambarkan kedisiplinan dan betapa berharganya waktu di sana. Hal inilah yang sempat membuat saya terkagum- kagum. Setelah menunggu beberapa menit, kereta yang saya tunggu pun akhirnya datang. Meskipun jumlah kereta sangatlah banyak, dengan banyaknya penumpang yang naik, tetap saja harus berdesak desakan di dalam kereta. Pada waktu rush hour, beberapa kereta di Tokyo yang ter kenal ramai, bahkan mempunyai petugas khusus untuk membantu mendorong pe numpang kedalam kereta saat pintu kereta akan menutup. Tetapi, walaupun dalam keaadaan yg berdesak desakan seperti ini pun, menaiki kereta di Tokyo itu relatif aman; jarang terjadi kasus pencopetan didalam kereta sekalipun dalam kondisi ramai. Baru saja saya mulai menikmati pemandangan dari jendela kereta, kereta telah tiba di stasiun Ueno. Ternyata perjalanan dari stasiun pusat Tokyo hanya memakan waktu 7 menit saja. Turun dari kereta, saya bergegas menuju ke Ueno Kouen karena memang sudah tidak sabar untuk segera melihat indahnya bunga sakura dan mulai berfoto ria. Dalam perjalanan menuju taman Ueno, saya melewati banyak museum, seperti Tokyo Bunka Kaikan (gedung ke buda yaan Tokyo) , The Ueno Royal Museum, dan The National Museum of Western Art. Setelah melewati beberapa museum tadi, saya tiba di sebuah perempatan besar. Di sebelah kanan, terdapat air mancur yang besar, yang bila dijalani terus akan mengantar kita pada museum yang lain yaitu Tokyo National Museum. Melihat ke depan terdapat sebuah kebun binatang yang tidak kalah besarnya, Ueno Zoo. Ternyata, taman nasional Ueno Kouen berada di sebelah kiri saya. Saya tercengang dengan indahnya sebuah jalan yang panjang, penuh oleh pohon Sakura di sebelah kiri kanannya. Rupanya, tidak salah saya memilih Ueno untuk tujuan kita kali ini. Ternyata saya tidak sendirian. Disepanjang jalan ini, banyak orang yang tengah menikmati indahnya bunga Sakura di jalan tersebut. Tidak hanya orang yang sedang berjalan, tetapi banyak juga orang yang memilih beristirahat menggelar tikar dan duduk sambil makan dan minum di tepi jalan. Satu hal yang menarik adalah tradisi orang Jepang yang tidak hanya sekedar berjalan- jalan menikmati indahnya bunga Sakura. Tetapi mereka berkumpul di bawah pohon sakura, makan dan minum bersama dengan teman- teman maupun rekan kerja sambil ber-hanami (hana: bunga, mi: melihat). Mekarnya bunga sakura memang bertepatan dengan mulainya tahun ajaran baru bagi pelajar dan tahun fiskal bagi perusahaan- perusahaan. Dan ada anggapan bahwa makan dan minum bersama di bawah pohon sakura yang sedang mekar akan mendatangkan rezeki untuk setahun ke depan. Karena itulah, walaupun di tengah kesibukan sehari- hari, mereka pasti menyempatkan sehari untuk menjalankan tradisi makan dan minum bersama di bawah pohon sakura ini. Jalan yang dipenuhi oleh pohon Sakura tadi, kira-kira sepanjang 500 meter. Deretan pohon Sakura terus berlanjut, begitu juga deretan orang orang yg sedang ber-hanami di tepi jalan. Setelah lama berjalan sambil dinaungi rimbunan bunga Sakura, tidak terasa perut sudah minta diisi. Di dekat ujung jalan yang dipenuhi pohon Sakura itu terdapat tangga turun ke bawah dan sebuah jalan yang terhubung dengan kuil. Ternyata disepanjang jalan ini terdapat festival makanan yang ramai dikunjungi orang. Setelah saya perhatikan, ternyata disini terdapat sekitar 10 jenis makanan yang siap memenuhi selera setiap pengunjung. Diantaranya adalah Yakitori (yaki : bakar, tori : ayam), makanan ini lebih mirip dengan sate ayam khas Jepang. Potongan daging, kulit, hati, jantung, dan rempela dipotong kecil ukuran sekali gigit, ditusuk dengan tusukan bambu, lalu dibakar dengan api arang atau gas. Selain itu, ada juga Ikayaki (ika : cumi, yaki : bakar) yang merupakan cumi utuh yang dipanggang, lalu dipotong menjadi 4 - 5 bagian. lalu dimakan dengan menggunakan saos spesial. Pilihan lainnya adalah Jagabata (jaga : kentang, bata : butter), makanan yang terbuat dari kentang dikukus hingga empuk, lalu dimakan dengan menggunakan butter dan saos miso. Terdapat pula menu martabak ala Jepang yang disebut dengan Okonomiyaki. Martabak ini terbuat dari bahan tepung terigu yang diencerkan dengan air atau dashi. Biasanya ditambah kol, telur ayam, makanan laut atau daging. Penjualnya dengan sigap membuat Okonomiyaki diatas teppan panjang. Ada pula bakmi goreng ala Jepang yang dikenal oleh masyarakat Jepang dengan Yakisoba. Penjual lainnya menawarkan menu Choco Banana, yaitu pisang yang dicelup ke coklat cair, dan bagian luarnya diberi mesyes. Lumuran coklat yang melapisi pisang itu begitu menggugah selera. Kemunculan bunga Sakura memang kerap dinanti. Tidak hanya oleh para penjaja makanan di festival yang tentunya meraup keuntungan sangat besar, tetapi juga oleh sebagian besar masyarakat Jepang dan juga turis mancanegara. Memang tidak berlebihan bila Jepang terkenal dengan julukan Negeri Sakura.

Kesimpulan : Di Jepang musim bunga sakura bermekaran adalah fenomena alam yang sangat indah, dan warganya menyambut peristiwa itu dengan penuh keceriaan dan menafsirkan bahwa musim semi telah tiba.Bagi warga Jepang, musim semi merupakan awal dari kehidupan sosial, kehidupan baru yag indah penuh harapan. Maka tidak heran pada saat musim bunga sakura telah tiba warga Jepang mengadakan ritual berdoa dan merayakannya dengan senang-gembira.

Referensi :
* http://www.scribd.com/doc/17168591/Makalah-Kebudayaan-Jepang-
* http://accan.wordpress.com/2009/04/22/perayaan-hanami/
* http://sapphireaiko.blogspot.com/2010/11/perayaan-hanami-di-jepang.html
* http://www.jsekai.com/articles.php?arid=145

Tidak ada komentar:

Posting Komentar